DEKON

Perumusan Visi SMK N Jateng Di Purbalingga

Kegiatan Pendampingan Individu oleh Pengajar Praktik dalam perumusan Visi Sekolah.

Kegiatan Elaborasi

Elaborasi pemahaman adalah proses memperdalam pemahaman terhadap materi yang telah diberikan.

Ruang Kolaborasi

Aktivitas yang dapat dilakukan oleh Calon Guru Penggerak (CGP), seperti masuk ke Ruang Virtual untuk diskusi, masuk ke Ruang Virtual untuk presentasi, dan mengumpulkan tugas.

Profil Blogger

Saya adalah seorang guru Kejuruan Teknik Pemesinan CNC dan CAM SMK N Jateng Di Purbalingga.

Aksi Nyata

Aksi Nyata adalah kegiatan konkret yang dilakukan oleh seorang Guru Penggerak dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

Monday, November 18, 2024

LOKAKARYA 5

 LOKAKARYA 5


  • Waktu : 10 November 2024
  • Pemahaman bermakna: Menjalankan tahapan inkuiri apresiatif (BAGJA) membantu Calon Guru Penggerak dalam merancang program berorientasi pada kepemimpinan murid (student agency) dengan mengoptimalkan aset yang dimiliki sekolah.
  • Produk yang dihasilkan: 
  • Rencana tindak lanjut tahapan B (Buat pertanyaan), A (Ambil pelajaran), dan G (Gali mimpi) dari tahapan BAGJA untuk merancang program yang berpihak pada murid. 
  • Strategi pelibatan aktor dalam fase gali mimpi.
  • Rencana program bagian Judul Program atau kegiatan, latar belakang, dan tujuan program.
Bisa di lihat di link berikut : LOKAKARYA 5
     

Friday, November 1, 2024

Ruang Kolaborasi Sesi 2 Modul 2.3

Ruang Kolaborasi Modul 2.3 - Sesi Praktik 🟢

Kamis, 26 September 2024 Pkl.14.00 s/d 15.30 WIB



To-do date: 26 Sep at 7:00

Durasi:  2 JP
Moda: Praktik (vicon)

Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP dapat mempraktikkan alur percakapan coaching TIRTA dan melakukan refleksi terhadap praktik percakapan coaching yang telah dilakukan dengan sesama rekan CGP


Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, 

Setelah Anda berlatih dengan rekan Anda, sekarang saatnya untuk mempraktikkan percakapan coaching dan memberikan refleksi mengenai praktik percakapan coaching yang telah dilakukan di dalam kelompok bersama fasilitator. Pastikan Anda sudah berlatih dengan baik. Praktik percakapan coaching ini akan diamati oleh sesama CGP lainnya dan fasilitator. Harapannya, setelah masing-masing pasangan CGP mempraktikkan percakapan coaching dan memberikan refleksinya masing-masing, CGP lain dan fasilitator dapat memberikan umpan balik berdasarkan data dan refleksi mengenai praktik CGP tersebut. Praktik ini juga akan dinilai oleh fasilitator dengan menggunakan rubrik penilaian.

Ruang Kolaborasi Modul 2.3

 Ruang Kolaborasi Modul 2.3 Sesi 1

26 September 2024 Pkl. 13.00 s/d 15.30 WIB


To-do date: 25 Sep at 7:00

Durasi:  4 JP
Moda: Kerja kelompok (sesi latihan)

Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP dapat membentuk komunitas praktisi dengan sesama CGP untuk berlatih melakukan praktik percakapan coaching dengan alur TIRTA.


  1. Secara bergantian, sepasang CGP akan berlatih percakapan coaching dengan model TIRTA baik sebagai coach maupun sebagai coachee. Pada sesi 1, CGP X akan menjadi coach bagi CGP Y. Berikutnya, CGP Y akan menjadi coach bagi CGP X.
  1. Topik atau hal yang akan dijadikan bahan percakapan coaching bisa merupakan situasi sehari-hari baik sebagai seorang guru maupun pribadi. Bahkan, bisa merupakan topik yang sangat sederhana.
  1. Pastikan langkah-langkah dalam percakapan coaching alur TIRTA dalam berlatih percakapan coaching dipraktikkan dengan baik
  1. Setelah bergantian berlatih mempraktikkan percakapan coaching, setiap CGP akan memberikan refleksinya masing-masing dengan format refleksi yang disediakan.

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, 

Anda tentunya sudah memahami konsep coaching dalam konteks pendidikan, komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar coaching, Percakapan coaching dengan alur TIRTA dan supervisi akademik yang menggunakan paradigma berpikir coaching baik melalui pembelajaran mandiri dan diskusi. Sekarang saatnya Anda berkolaborasi dengan rekan calon guru penggerak lainnya untuk membentuk  komunitas praktisi secara daring.

Pada sesi latihan ini, Anda akan bekerjasama dengan satu CGP lainnya untuk berlatih percakapan coaching dengan alur TIRTA.




LOKAKARYA 4

 LOKAKARYA 4

Pemahaman bermakna: 

Coaching adalah sarana untuk mengidentifikasi kekuatan dan merencanakan strategi perbaikan diri dalam proses pembelajaran yang berpihak pada murid.


Produk yang dihasilkan: 

  • Hasil identifikasi kekuatan, area pengembangan dan umpan balik guru/rekan sejawat
  • Rencana perbaikan dan strategi pengembangan proses pembelajaran yang berpihak pada murid.


Bisa diliahat di link video berikut : LOKAKARYA 4




LOKAKARYA 3

 LOKAKARYA 3

Pemahaman bermakna: 

  • Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional memungkinkan guru untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Produk yang dihasilkan: 

  • Hasil refleksi dari simulasi dan penerapan pembelajaran berdiferensiasi. 
  • Hasil refleksi dari Praktik mindfulness dan integrasi 5 kompetensi sosial emosional dalam praktik mengajar. 
  • Strategi berbagi pengalaman belajar dengan rekan sejawat mengenai pembelajaran berdiferensiasi dan kompetensi sosial emosional.

Link Video Bisa dilihat disini : Lokakarya 3 



Friday, October 18, 2024

Tugas Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

 Tugas Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin


Dibawah ini link semua tugas Modul 3.1 Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin :

1. Blog Rangkuman Koneksi Antar Materi - Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin


Koneksi Holistik Antar Modul dalam Membangun Peran Guru Penggerak Sebagai Pemimpin Pendidikan

 

Koneksi Holistik Antar Modul dalam Membangun Peran Guru Penggerak Sebagai Pemimpin Pendidikan

Oleh : Mukhtarom,S.T.

 

Modul-modul dalam Program Guru Penggerak disusun secara holistik untuk mendukung peran guru sebagai pemimpin pendidikan yang mampu menciptakan perubahan positif dalam sekolah dan masyarakat. Berikut adalah koneksi antara materi-materi dalam modul tersebut:

1. Modul 1.1: Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara

Modul ini menjadi fondasi filosofis dalam seluruh proses pembelajaran guru penggerak. Prinsip pendidikan yang berpusat pada siswa, serta konsep “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani,” menekankan peran guru sebagai teladan, penggerak, dan pendamping. Filosofi ini menuntun guru untuk mengembangkan lingkungan belajar yang memerdekakan, di mana siswa dapat berkembang secara optimal dalam aspek akademis, sosial, dan emosional.

2. Modul 1.2: Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak

Modul ini membahas nilai-nilai inti yang harus dipegang oleh guru penggerak, seperti kemerdekaan berpikir, gotong royong, serta keadilan. Nilai-nilai ini selaras dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, di mana guru harus berperan sebagai agen perubahan dengan mendukung kebebasan berpikir siswa, mendorong kolaborasi, dan menciptakan lingkungan yang adil dan inklusif. Guru penggerak bertanggung jawab tidak hanya pada proses pembelajaran, tetapi juga pada pengembangan moral dan karakter siswa.

3. Modul 1.3: Visi Guru Penggerak

Visi Guru Penggerak adalah menciptakan generasi penerus yang mandiri, kreatif, dan berkarakter kuat. Modul ini mengaitkan refleksi filosofis pendidikan nasional dan nilai-nilai guru penggerak dengan visi yang lebih luas, yaitu memajukan pendidikan Indonesia melalui pembelajaran yang holistik dan mendukung pertumbuhan setiap individu. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga memimpin perubahan yang berkelanjutan dalam sekolah dan komunitas.

4. Modul 1.4: Budaya Positif

Budaya positif di sekolah menjadi faktor penting untuk mewujudkan visi guru penggerak. Disiplin positif, motivasi perilaku, dan penerapan segitiga restitusi adalah konsep-konsep utama dalam modul ini. Filosofi Ki Hajar Dewantara menjadi landasan penerapan budaya positif, di mana siswa diperlakukan sebagai individu yang berhak atas kebebasan belajar dan didukung dengan lingkungan yang memotivasi perkembangan karakter serta akhlak. Budaya ini menciptakan rasa saling percaya dan rasa tanggung jawab bersama antara guru dan siswa.

5. Modul 2.1: Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid (Pembelajaran Berdiferensiasi)

Pembelajaran berdiferensiasi adalah respons terhadap kebutuhan unik setiap siswa. Koneksi antara modul ini dengan refleksi filosofis dan budaya positif terletak pada penghargaan terhadap individualitas siswa. Guru penggerak memahami bahwa setiap siswa belajar dengan cara yang berbeda, dan oleh karena itu, pembelajaran harus disesuaikan baik dari segi konten, proses, maupun produk untuk memastikan semua siswa dapat mencapai potensi maksimalnya.

6. Modul 2.2: Pembelajaran Sosial dan Emosional (SEL)

Modul ini memperkuat peran guru dalam membantu siswa mengembangkan kompetensi sosial-emosional yang penting, seperti kesadaran diri, manajemen emosi, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran sosial dan emosional sejalan dengan visi pendidikan yang holistik dan pembelajaran berdiferensiasi, karena membantu siswa untuk tidak hanya tumbuh secara akademis, tetapi juga menjadi individu yang tangguh dan berintegritas.

7. Modul 2.3: Coaching untuk Supervisi Akademik

Coaching adalah pendekatan yang memungkinkan guru untuk mendukung perkembangan profesional sesama guru dalam proses supervisi akademik. Ini mendukung peran guru sebagai pemimpin pembelajaran yang terus berinovasi dan berkembang. Dalam modul ini, coaching berfokus pada pengembangan refleksi dan peningkatan praktik pengajaran melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis nilai-nilai kebajikan. Guru penggerak juga berperan sebagai fasilitator perubahan, baik bagi murid maupun rekan sejawat.

 

8. Modul 3.1: Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

Sebagai pemimpin pembelajaran dan agen perubahan, guru penggerak dihadapkan pada pengambilan keputusan yang harus berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan seperti integritas, keadilan, dan tanggung jawab. Modul ini memperkuat koneksi dengan semua modul sebelumnya, karena keputusan yang diambil oleh guru penggerak harus selalu mendukung visi pendidikan yang berkeadilan, mengutamakan kemaslahatan siswa, serta membangun lingkungan belajar yang positif dan inklusif.

 

Kesimpulan Koneksi Antar Modul

Semua modul dalam program Guru Penggerak berinteraksi secara sinergis untuk membentuk guru yang tidak hanya unggul dalam pengajaran, tetapi juga berperan sebagai pemimpin perubahan dalam pendidikan. Filosofi Ki Hajar Dewantara memberikan dasar yang kokoh bagi guru penggerak untuk menerapkan nilai-nilai kebajikan, menciptakan budaya positif, dan memastikan pembelajaran yang inklusif dan berdiferensiasi. Dengan keterampilan sosial-emosional yang kuat serta kemampuan coaching untuk supervisi akademik, guru penggerak mampu mempengaruhi lingkungan sekolah secara positif dan membuat keputusan yang berdampak pada kesejahteraan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan.